Farrsal
← Kembali ke Berita

IHSG Ditutup Menguat ke 5.924, Tertinggal dari Wall Street dan Bursa Singapura saat Optimisme AI Dorong Pasar Global

IHSG Ditutup Menguat ke 5.924, Tertinggal dari Wall Street dan Bursa Singapura saat Optimisme AI Dorong Pasar Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi acuan Indonesia mengakhiri sesi perdagangan terakhir pekan ini pada hari Jumat (7/10/2026) di zona positif, naik tipis 0,20 persen, atau 11,92 poin, untuk ditutup pada level 5.924,36. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya, meskipun lajunya tertinggal jauh di belakang reli yang lebih tajam yang dicatatkan di Wall Street dan Singapura pada periode yang sama.

Sepanjang sesi, IHSG dibuka lebih tinggi di level 5.936,04 sebelum tergelincir ke level terendah harian di 5.887,83, kemudian berbalik arah untuk ditutup mendekati level tertinggi hariannya di 5.949,99. Nilai transaksi mencapai Rp8,86 triliun, dengan volume perdagangan sebesar 18,51 miliar saham yang berpindah tangan melalui 1,92 juta transaksi.

Sebanyak 364 saham menguat, 241 saham melemah, dan 185 saham tidak berubah. Delapan dari sebelas sektor ditutup di zona positif, dipimpin oleh sektor energi yang melonjak 0,91 persen, sementara sektor industri menjadi penekan terbesar dengan penurunan sebesar 0,48 persen.

Dari sisi aliran dana asing, investor membukukan penjualan bersih sebesar Rp284,90 miar, meskipun tekanan jual tersebut relatif terbatas dan tidak cukup untuk menyeret indeks kembali ke zona negatif.

Penguatan IHSG hari ini didorong oleh membaiknya sentimen geopolitik setelah adanya sinyal dari Presiden AS Donald Trump bahwa negosiasi perdamaian dengan Iran akan berlanjut, bersamaan dengan laporan World Economic Outlook (WEO) Juli 2026 dari IMF yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen untuk tahun 2026 dan 5,1 persen untuk tahun 2027 — masih di atas proyeksi rata-rata global yang hanya sebesar 3,0 persen, serta rata-rata regional ASEAN-5 yang berada di kisaran 4,1 persen.

Rupiah juga menguat 0,35 persen ke kisaran Rp18.050–18.065 per dolar AS pada penutupan yang sama.

Jika dibandingkan dengan bursa regional lainnya, kenaikan IHSG jauh tertinggal dari kinerja Bursa Singapura.

Straits Times Index (STI) ditutup naik 0,7 persen, atau 35,41 poin, ke level 5.469,29 pada hari yang sama, diperdagangkan dalam kisaran 5.412,51 hingga 5.472,10. Reli STI ditopang oleh optimisme investor terhadap berlanjutnya permintaan yang kuat untuk cip dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sejalan dengan reli yang lebih luas pada saham-saham teknologi di pasar global.

Sentimen serupa tercermin di Wall Street pada penutupan hari Kamis waktu AS (7/9/2026), yang menjadi acuan perdagangan semalam bagi pasar Asia keesokan harinya.

Dow Jones Industrial Average naik 0,27 persen, atau 139,02 poin, ke level 52.487,41; S&P 500 naik 0,81 persen ke level 7.543,64; sementara Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan tertajam di antara ketiganya, melonjak 1,30 persen ke level 26.206,89. Reli Wall Street didorong oleh lonjakan saham-saham cip, dengan Micron Technology melonjak 4,5 persen dan SanDisk melesat 7,6 persen, meskipun ketegangan militer antara AS dan Iran masih berlanjut.

Pola di ketiga pasar tersebut cukup konsisten: sentimen positif yang berasal dari harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah serta optimisme seputar siklus teknologi AI menjadi pendorong utama di Jakarta, Singapura, maupun Wall Street.

Namun, besarnya kenaikan berbeda tajam — Nasdaq yang padat teknologi dan STI yang sarat dengan saham-saham terkait AI dan sektor keuangan mencatatkan kenaikan signifikan, sementara IHSG yang komposisinya lebih condong ke saham perbankan dan komoditas domestik bergerak jauh lebih moderat, tertahan oleh aksi jual bersih asing serta kekhawatiran yang masih ada terkait tinjauan reklasifikasi indeks S&P Dow Jones yang sempat menekan IHSG di awal pekan.