Dari 488.550 nasabah menjadi 1,43 juta hanya dalam satu tahun. Itulah pertumbuhan nasabah Gen Z dalam program Tabungan Emas Pegadaian per Mei 2026—peningkatan tahunan yang luar biasa sebesar 193%, jauh melampaui pertumbuhan 71% yang tercatat di kalangan milenial. Jika ada yang masih percaya generasi ini hanya unggul dalam belanja online dan kesulitan menabung, data menunjukkan cerita yang sangat berbeda.
Namun, ada satu bagian dari cerita yang jarang mendapat perhatian: jumlah investor yang lebih besar tidak selalu berarti kekayaan yang lebih besar. Dan itulah yang harus dipahami Gen Z sebelum terburu-buru membuka rekening investasi.
Lonjakan Investor, tetapi Masih Memegang Aset Kecil
Per Mei 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia melaporkan bahwa jumlah investor pasar modal telah melampaui 28,1 juta. Lebih dari 54% di antaranya termasuk Gen Z dan Generasi Alpha—orang-orang di bawah usia 30 tahun.
Sementara itu, data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa total jumlah investor mencapai 27,75 juta pada akhir Mei, mewakili peningkatan 36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan investor di kalangan generasi muda saja mencapai sekitar 79% sejak 2025. Tren serupa dapat dilihat di provinsi-provinsi besar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, di mana investor berusia di bawah 40 tahun menyumbang lebih dari 70% dari populasi investor lokal.
Sekarang, bagian yang menarik.
Meskipun Gen Z mewakili lebih dari separuh dari seluruh investor, mereka hanya memegang sekitar Rp 48,3 triliun dalam aset C-BEST—sekitar 3,2% dari total aset pasar modal Indonesia selama periode yang sama.
Kontrasnya mencolok: lebih dari separuh populasi investor menguasai kurang dari seperdua puluh kekayaan pasar.
Ini bukan tanda kegagalan. Sebaliknya, ini mencerminkan realitas keuangan generasi yang baru memulai kehidupan kerja dan umumnya berpenghasilan lebih rendah. Yang terpentari bukanlah seberapa banyak kekayaan yang dimiliki Gen Z hari ini, melainkan kebiasaan yang mereka bangun. Jika kebiasaan tersebut tetap konsisten selama dekade berikutnya, dampak jangka panjangnya bisa jauh lebih besar dari yang ditunjukkan angka-angka hari ini.
Mengapa Reksa Dana dan Emas Menjadi Pilihan Utama
Preferensi investasi Gen Z jauh dari acak. Ada alasan ekonomi yang jelas di baliknya.
Sebuah survei oleh Populix menemukan bahwa sekitar 80% responden Gen Z menganggap emas sebagai instrumen investasi pilihan mereka. Temuan ini sejalan dengan pertumbuhan pesat nasabah Tabungan Emas Pegadaian yang disebutkan sebelumnya.
Lingkungan makroekonomi membantu menjelaskan alasannya. Tingkat inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,34% pada Juni 2026, naik dari 3,08% pada Mei, meskipun tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5% ±1%. Pada saat yang sama, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75% pada Juli 2026 setelah menaikkannya total 100 basis poin sejak Mei.
Di tengah inflasi yang persisten, rupiah yang relatif lemah, dan biaya hidup yang meningkat, emas tampak bagi banyak investor muda sebagai penyimpan nilai yang lebih aman daripada sekadar memegang uang tunai yang daya belinya secara bertahap menurun.
Reksa dana—terutama reksa dana pasar uang—telah menjadi pilihan terpopuler kedua karena alasan yang berbeda. Banyak platform investasi memungkinkan investor untuk memulai dengan modal sekecil Rp 10.000, membuat produk-produk ini sangat mudah diakses. Dibandingkan dengan membeli saham individual, reksa dana juga menawarkan eksposur yang lebih terdiversifikasi dan dapat dengan mudah dipantau melalui aplikasi seluler.
Menyadari pentingnya kebiasaan berinvestasi yang konsisten, OJK memperkenalkan program PINTAR (Investasi Terencana dan Berkala) di Bursa Efek Indonesia pada April 2026. Inisiatif ini mendorong investor untuk berkontribusi secara teratur daripada melakukan investasi satu kali dan melupakannya.
Ini mencerminkan pemahaman yang lebih luas di kalangan regulator: meningkatkan jumlah investor tidak cukup jika disiplin investasi jangka panjang tidak ada.
Mata uang kripto tetap menjadi bagian dari beberapa portofolio Gen Z, meskipun perannya tampak lebih terbatas.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Indonesia melaporkan bahwa negara ini memiliki lebih dari 18 juta investor kripto per Januari 2026. Berdasarkan data demografi sebelumnya, lebih dari 60% pengguna kripto termasuk dalam kelompok usia 18–30 tahun—sebuah tren yang tampaknya terus berlanjut.
Meskipun demikian, mata uang kripto umumnya menempati porsi yang jauh lebih kecil dalam portofolio investasi Gen Z dibandingkan emas atau reksa dana, sebagian besar karena volatilitasnya yang tinggi kurang cocok untuk individu yang masih membangun tabungan awal mereka.
Simulasi Sederhana: Biaya Menunggu Lima Tahun
Pertimbangkan contoh sederhana.
Misalkan seseorang mulai berinvestasi Rp 500.000 setiap bulan dalam reksa dana campuran pada usia 22 tahun, dengan asumsi imbal hasil tahunan rata-rata 7%. Meskipun imbal hasil historis tidak pernah menjamin kinerja di masa depan, asumsi ini secara luas konsisten dengan kinerja jangka panjang produk investasi serupa.
Pada usia 40 tahun, investor tersebut akan telah mengontribusikan sekitar Rp 108 juta.
Namun, berkat pertumbuhan majemuk selama 18 tahun, perkiraan nilai portofolio bisa mencapai sekitar Rp 215 juta.
Sekarang bandingkan dengan seseorang yang menunda investasi hingga usia 27 tahun sambil mengontribusikan jumlah bulanan yang sama hingga usia 40 tahun.
Investor kedua hanya mengontribusikan total Rp 30 juta lebih sedikit karena mereka berinvestasi selama 13 tahun, bukan 18 tahun. Namun, perkiraan nilai portofolio hanya mencapai sekitar Rp 127 juta—hampir Rp 90 juta lebih sedikit dari skenario pertama.
Hanya sekitar sepertiga dari perbedaan itu berasal dari kontribusi tambahan itu sendiri.
Kesenjangan yang tersisa tercipta hanya dengan memberikan investasi lebih banyak waktu untuk berkembang secara majemuk.
Ini menggambarkan mengapa menunggu gaji yang lebih tinggi sebelum berinvestasi seringkali merupakan kesalahan yang mahal bagi orang-orang berusia dua puluhan. Investasi bulanan Rp 500.000 hari ini pada akhirnya dapat bekerja lebih keras daripada berinvestasi Rp 2 juta lima tahun kemudian—bukan karena jumlah yang diinvestasikan, tetapi karena waktu tambahan yang tersedia untuk bunga majemuk.
Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan
Pertumbuhan investor yang pesat juga membawa risiko yang signifikan.
Membuka rekening investasi dengan modal sekecil Rp 10.000 telah membuat investasi lebih mudah diakses dari sebelumnya, tetapi juga mendorong beberapa pemula untuk membuat keputusan berdasarkan tren media sosial daripada pemahaman yang tepat tentang risiko keuangan.
Penipuan investasi terus menargetkan investor yang tidak berpengalaman yang kesulitan membedakan produk keuangan yang sah dari skema penipuan.
Pada saat yang sama, banyak investor muda belum membangun fondasi keuangan yang kokoh seperti tabungan darurat, asuransi kesehatan, dan arus kas bulanan yang stabil sebelum membangun portofolio investasi.
Tanpa dasar-dasar ini, investasi mungkin perlu dilikuidasi selama keadaan darurat, merusak tujuan keuangan jangka panjang.
Judul berita bahwa "54% investor Indonesia adalah Gen Z" tentu terdengar mengesankan.
Namun, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Anda sudah menjadi investor.
Sebaliknya, tanyakan pada diri Anda ini:
Dari uang yang sudah Anda tempatkan di rekening investasi atau tabungan emas Anda, sudah berapa bulan berturut-turut Anda secara konsisten menambahkannya?

