Pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang disebut sebagai armada bayangan (shadow fleet) yang selama ini mengangkut minyak dan produk minyak bumi dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela. Menurut seorang pejabat AS, langkah ini merupakan upaya untuk menekan rekor tertinggi tarif pengiriman global. Pembicaraan ini menjadi krusial karena menargetkan kelangkaan kapal tanker yang telah mendorong beberapa segmen pasar spot menyentuh angka jutaan dolar untuk pertama kalinya dalam sejarah—dan karena pasar telah menunjukkan ekspektasinya terhadap seberapa besar dampak pelonggaran tersebut.
Dalam pembahasan tersebut, Amerika Serikat berpotensi mengizinkan "minyak legal" mengalir melalui kapal-kapal yang sebelumnya terkena sanksi, menurut pejabat tersebut. Ini berarti minyak mentah atau produk minyak bumi yang tidak dikenai sanksi oleh Washington, bukan minyak Rusia dan Iran yang tetap berada di bawah tindakan hukuman. Tujuan yang dinyatakan adalah untuk mengeluarkan lebih banyak produk sulingan dan minyak mentah dari kawasan Teluk.
Perusahaan yang ingin menggunakan kapal-kapal yang disanksi tersebut harus mengajukan permohonan izin kepada Departemen Keuangan AS, kata pejabat itu. Hingga saat ini, belum ada pelonggaran resmi yang diumumkan.
Apa yang Sebenarnya Diusulkan Washington
Langkah yang tengah dibahas ini lebih sempit daripada pencabutan sanksi secara menyeluruh. Kapal-kapal yang sebelumnya disanksi akan diberikan izin untuk mengangkut "minyak legal"—minyak mentah dan produk yang tidak tunduk pada pembatasan AS—sementara kargo Rusia dan Iran tetap dilarang. Washington melihat kemungkinan ini sebagai cara untuk meningkatkan pengiriman dari Teluk Persia, di mana ketegangan dan kapasitas pengiriman yang terbatas menjaga biaya tetap tinggi.

