Namun, laba bersih (bottom line) perusahaan menunjukkan angka yang bervariasi. Laba bersih konsolidasi tercatat sebesar Rs 122.3 crore dalam salah satu laporan, mencerminkan kenaikan 16,7% secara tahunan. Sumber lain mencatat PAT konsolidasi sebesar Rs 91 crore, hanya naik 3,79%, sementara laba bersih standalone mencapai Rs 110 crore, melonjak sekitar 53,2% dari Rs 71.8 crore pada tahun sebelumnya. Angka standalone ini juga menandai pemulihan tajam dari kerugian sebesar Rs 163.19 crore pada kuartal sebelumnya, yang sempat terdistorsi oleh perubahan akuntansi nilai wajar (fair-value).
Perbedaan angka ini sangat penting. Laba kotor konsolidasi melonjak 92,8% menjadi Rs 100 crore, namun angka PAT konsolidasi terendah hanya tumbuh 3,79%. Kesenjangan tersebut mengindikasikan adanya beban di bawah pos operasional—kemungkinan berupa depresiasi, bunga, atau beban pajak yang lebih tinggi—yang menggerus keuntungan operasional. Investor yang hanya berfokus pada lonjakan laba utama berisiko melewatkan transmisi kekuatan margin yang tidak merata ke laba bersih.
Reaksi pasar memberikan dinamika tersendiri. Pada hari pengumuman laporan keuangan, 22 Juli, saham tersebut turun 1,01% menjadi Rs 598.85. Namun keesokan paginya, sentimen berbalik arah: saham dibuka menguat (gap up) dan melonjak hingga 13% ke level tertinggi intraday Rs 675.90, dengan nilai transaksi mencapai Rs 362.85 crore. Saham ini berkinerja lebih unggul (outperformed) dibanding sektornya sebesar 5.74 poin persentase dan diperdagangkan di atas seluruh rata-rata pergerakan (moving average) utamanya.

