Mengapa Bank Sentral Dunia Kehabisan Amunisi Hadapi Inflasi Geopolitik
Angka minus 23.000 itulah yang membuat para trader Wall Street tersedak kopi mereka pagi itu. Angka buruk itu sendiri bukanlah kejutan; ekonom kerap melihat angka-angka jelek. Yang menggegerkan pasar adalah konteksnya: angka ini keluar tepat seminggu setelah The Fed memilih menahan suku bunga dengan voting 9-3, di mana tiga gubernur justru mendorong kenaikan, bukan pemangkasan.
Ketika data ketenagakerjaan melunak tetapi bank sentral tidak bisa merespons dengan bebas karena inflasi energi masih membara, itu bukan sekadar gejolak siklus bisnis biasa. Itu adalah sinyal bahwa instrumen moneter konvensional kehabisan daya melawan sumber inflasi yang sama sekali tidak berasal dari ekonomi domestik, melainkan dari peta geopolitik yang terus berubah dari minggu ke minggu.
Tarik data dari lima ekonomi terbesar dunia selama sepekan terakhir, polanya menjadi lebih tajam daripada yang disiratkan oleh satu judul harian.
Data Tenaga Kerja AS yang Menipu di Permukaan
Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan payroll Juli turun 23.000, jauh meleset dari ekspektasi konsensus yang memperkirakan kenaikan 80.000. Mei dan Juni juga direvisi turun total 103.000. Tingkat pengangguran sebenarnya turun ke 4,1%, tetapi penurunan semacam itu patut dicurigai daripada disambut lega: tingkat partisipasi angkatan kerja merosot ke 61,4%, terendah dalam lima tahun. Orang-orang tidak menemukan pekerjaan. Mereka menyerah mencari.

