Inflasi Jerman Naik Saat Ekonominya Tetap Lemah
Data yang dikonfirmasi pada 12 Agustus menunjukkan inflasi Jerman naik ke 2,8% pada Juli dari 2,4% pada Juni. Angka itu terlihat kecil jika berdiri sendiri. Tetapi angka itu muncul bersamaan dengan Brent yang melonjak sekitar 13% dari level terendah pekan sebelumnya akibat ketegangan Timur Tengah yang kembali memanas, dan konteks itu jauh lebih penting daripada angka headline.
Jerman, importir energi neto dan jantung industri zona euro, berada di antara ekonomi yang paling rentan terhadap guncangan energi global. Ketika biaya energi naik, tekanannya mengalir dua arah sekaligus: mendorong naik biaya produksi bagi sektor manufaktur yang sudah lesu, sambil menggerus daya beli konsumen di tengah pertumbuhan upah yang stagnan. Ini bukan inflasi yang didorong permintaan yang menandakan ekonomi menguat. Ini inflasi dorongan biaya yang menandakan ekonomi semakin rentan terhadap guncangan yang sepenuhnya di luar kendali Frankfurt atau Berlin.
India Tampak Tenang, tetapi Jangan Keliru Menganggap Itu Keyakinan
Reserve Bank of India menahan suku bunga repo di 5,25% untuk pertemuan keempat berturut-turut pada 5 Agustus, kali ini dengan suara bulat. RBI membaca lonjakan CPI Juli ke 4,45% secara tahunan sebagai masalah sisi pasokan, bukan masalah permintaan, dengan sikap netral sambil menaikkan proyeksi pertumbuhan ke 6,7%.

