Lonjakan tarif kapal tanker menambah biaya hingga $40 per barel pada harga pengiriman minyak mentah, menurut laporan Forbes yang diterbitkan 18 Oktober 2026. Hal ini mengubah arus perdagangan global dan mengerek biaya bahan bakar bagi konsumen. Lonjakan tersebut mencerminkan pergeseran fundamental: harga minyak kini bukan sekadar harga minyak mentah, melainkan kian bergantung pada biaya pengirimannya.
Pada rute Afrika Barat ke China, biaya angkut Very Large Crude Carrier (VLCC) melonjak dari sekitar $6,50 per barel pada Juli menjadi $20,41 pekan lalu dan $23,59 pada Sabtu. Menurut data analis Eropa Karel Mercx dan The Kobeissi Letter yang dikutip Moneyvests, nilai tersebut mencerminkan kenaikan 258% dalam dua bulan. Rute Teluk Oman ke China mencapai rekor $11,50 per barel, sebagaimana dilaporkan Reuters. Sementara itu, rute Houston ke Asia kini memakan biaya sekitar $26 per barel — atau $52 juta per kargo berkapasitas dua juta barel — setara dengan kira-kira 25% dari kontrak berjangka West Texas Intermediate, menurut GetSupplyBrief dan Bloomberg.
Tarif sewa harian untuk VLCC pada tolok ukur rute Teluk Persia ke China telah melampaui $1 juta untuk pertama kalinya, menurut data Baltic Exchange, naik dari rentang sebelum konflik sebesar $117.400 hingga $208.000. Angka BDTI dari pertengahan September menempatkan ekuivalen sewa waktu (TCE) TD3C (Timur Tengah–Timur Jauh) pada $1,2125 juta per hari, TD15 (Afrika Barat–Timur Jauh) pada $524.500, dan TD22 (Teluk AS–Timur Jauh) pada $388.400. Valuasi ekuitas perusahaan tanker minyak terbesar di dunia mencapai rekor mendekati $70 miliar.

