Ada istilah lama yang populer di Wall Street untuk menggambarkan situasi ini: pasar dapat "mendaki dinding kekhawatiran" (climb a wall of worry), yaitu menguat justru karena kabar buruk berulang kali gagal menjatuhkannya, yang kemudian ditafsirkan oleh investor sebagai bukti bahwa kabar buruk tersebut tidak lagi berpengaruh. Pihak yang bullish menganggap setiap pekan tanpa eskalasi perang menjadi guncangan minyak total sebagai bukti bahwa narasi fiskal telah benar-benar melepaskan pasar Eropa dari risiko Timur Tengah. Sebaliknya, pihak yang skeptis melihat pekan-pekan yang tenang tersebut sebagai akumulasi dari sikap puas diri, bukan hilangnya risiko, karena dinding kekhawatiran hanya akan bertahan sampai kekhawatiran spesifik yang mendasarinya benar-benar terjadi.
Pandangan mana yang lebih kuat saat ini? Transformasi fiskal di Jerman memang nyata, terukur, dan tidak akan hilang terlepas dari apa pun yang terjadi di Teluk. Bagian dari argumen bullish ini harus disikapi secara serius, bukan diabaikan begitu saja sebagai penguatan tanpa dasar. Namun, argumen mengenai momentum waktu tampak lebih rapuh daripada yang tercermin pada harga pasar saat ini. Berakhirnya tenggat waktu gencatan senjata tanpa kesepakatan, kenaikan harga minyak selama empat hari berturut-turut, dan blokade yang digambarkan oleh para pejabat sebagai tindakan tanpa batas waktu bukanlah kondisi yang mendukung anggapan bahwa "perang tidak lagi berpengaruh". Kondisi ini justru lebih mendekati situasi sebelum terjadinya aksi jual riil pada April lalu.

